Potensi Pasuruan menjadi “Dapur Indonesia”

Menjadi bagian dari Provinsi Jawa Timur, Kabupaten Pasuruan selain dikenal sebagai kawasan perindustrian, juga termasuk daerah pertanian yang memiliki potensi cukup menjanjikan bagi para penduduknya. Maka sudah semestinya arah pembangunan industri Kabupaten Pasuruan tetap harus memperhatikan pertanian. Sektor ini tidak boleh ditinggal, tetapi harus diperluas cakupannya sehingga menghasilkan nilai tambah bagi industri daerah.

Memiliki luas wilayah sekitar 147.401,50 Ha, yang terdiri dari dataran rendah dan dataran tinggi yang cukup luas dan subur, Kabupaten Pasuruan memiliki potensi pertanian dan perkebunan yang cukup baik. Jika dunia memiliki Thailand sebagai “Dapur Dunia” karena kesuksesan Negeri Gajah Putih tersebut dalam bidang agribisnis, maka pemerintah Kabupaten Pasuruan dapat menjadikan Pasuruan sebagai “Dapur Indonesia” karena potensi pertanian yang cukup menjanjikan tersebut.

Apalagi pembangunan sektor pertanian searah dengan draf RIPIN 2015-2035, Kemenperin tetap mencantumkan sektor industri berbasis produk pertanian dan perikanan (pangan) sebagai industri andalan Indonesia. Sektor industri pangan ini disandingkan dengan enam sektor industri andalan lainnya, yakni industri tekstil, alas kaki, dan aneka; industri elektronik dan telematika; industri farmasi, kosmetika, dan alat kesehatan; industri alat transportasi; serta industri pembangkit energi.

Adapun tiga kunci besar agar arah pembangunan sektor pertanian Kabupaten Pasuruan bisa sukses, antara lain sebagai berikut :

1. Penelitian untuk menghasilkan teknologi dan efisiensi.

Agar BEP ditingkat petani rendah, maka dalam penelitian pertanian, pertama harus ditujukan untuk mempercepat penemuan jenis unggulan baru. Namun jenis unggulan baru itu harus selalu diorientasikan kepasar dan diorientasikan kelahan budidaya yang akan ditanami. Kedua, penelitian ditujukan untuk menemukan rumusan teknologi yang hemat biaya (efisien) dan mampu mengadaptasi tanaman terhadap berbagai musim. Dan tak lupa pemerintah daerah khususnya Bupati harus mengetahui kalau dipasar itu nanti produk petani akan bersaing. Untuk menang bersaing, barang harus bagus – harga herus lebih murah dari pesaing, tetapi petani harus untung.

Jika penelitian pertanian untuk menghasilkan teknologi dan efisiensi yang berorientasi kepasar berhasil, maka pasar menjadi “lokomotif” karena semua produk akan menjadi komoditi (mata dagangan).

2. Sentral produsen pertanian.

Hasil penelitian yang baik, sebaiknya tidak serta merta disebar bebas keseluruh kawasan pertanian. Produk adalah komoditi (mata dagangan) yang akan dijual kepasar. Hal paling sensitive dalam pemasaran komoditi yang dihasilkan petani adalah harga. Mulai dari Hadits Nabi sampai ilmu ekonomi modern menyatakan bahwa harga dibentuk oleh pasar (yang berisi penawaran dan permintaan). Naik-turunnya harga ditentukan oleh naik dan turun (besar)nya penawaran/pasokan dan permintaan konsumen. Besarnya permintaan konsumen/pasar pada dasarnya hampir sama setiap harinya. Artinya, agar harga “stabil” maka jumlah atau besarnya pasokan komoditi segar dari produsen kepasar tidak boleh kurang jauh dan tidak boleh berlebihan.

Untuk inilah, produsen harus dikelola oleh sebuah lembaga usaha yang mengatur jumlah produksi yang dikirim kepasar. Lembaga petani produsen ini perlu ada disetiap luasan 200 – 500 ha.

3. Pusat distribusi.

Dalam pengertian sehari-hari, pusat distribusi yang posisinya dikota-kota besar itu disebut “pasar induk”. Disebut induk, karena menjadi tempat bermuaranya para pemasok dan para pedagang grosir melakukan pemasaran komoditi. Kaidah transaksinya, dipasar induk itu tempat menjual dan membeli komoditi secara borongan, bukan eceran melayani konsumen rumah tangga.
Untuk mengatur distribusi komoditi kekonsumen, terutama konsumen kota besar yang serapannya terhadap komoditi pangan jumlahnya besar, perlu diatur adanya pasar induk itu.

Berdasarkan kajian sederhana Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas), kota yang berpenduduk > 2 juta orang, perlu dibangun pasar induk dengan luasan 3 – 5 ha. Sedangkan kota yang jumlah penduduknya 1 – 2 juta orang bangunan pasar induknya cukup 2 ha. Sedangkan kota yang penduduknya kurang dari 1 juta orang, cukup dibangun pasar eceran yang suplaynya dapat langsung dari sentra produksi. Dengan jumlah penduduk Kabupaten Pasuruan sebesar 1,5 juta jiwa lebih, maka sudah sepatutnya Kabupaten Pasuruan memiliki pasar induk sebagai pusat distribusi komoditi pertanian.

(khumaidi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Spam Protection by WP-SpamFree